Minggu, 21 Juli 2013

Pemulung

     Malam hari, kira-kira jam 7, aku keluar hendak membeli sesuatu ke warung depan tempat tinggalku. Kulihat ke langit bulan sedang purnama. Hanya tidak terlalu terang. Mungkin langit sedang berkabut yang berasal dari polusi udara. Sesampai di warung, ternyata apa yang kubeli sedang habis. Jadi terpaksa aku ke warung sebelahnya lagi. Berada di sisi lain jalan, agak ke kanan.

     Selagi berjalan ke sana, aku terhenyak melihat seseorang sedang membungkuk di tempat sampah rumah tetangga. Tempat sampah itu berada tepat di sisi samping di luar pintu gerbang rumah itu. Gerbangnya lagi ditutup. Suasana sekitar sepi layaknya komplek perumahan, di mana hampir semua pemilik rumah berada di rumah masing-masing.

     Bulan purnama. Sepi. Jalan lengang maklum ini perumahan, bukan jalan raya. Seorang perempuan di tempat sampah. Berisik. Mengaduk-aduk sampah. Memilih apa yang dia cari, yang mungkin masih bisa terjual olehnya. Begitu kontrasnya suasana. Dalam hatiku ada perasaan aneh. Aku langsung merasa kasihan. Sedih. Hingga aku memaksakan diri untuk tidak melihatnya.

Sekembali  dari warung, pikiranku masih terganggu oleh bayangan aktivitas pemulung tadi.  Betapa sulitnya hidup ini bagi beberapa orang.betapa tidak ramahnya hidup ini bagi sebagian orang. Seperti pemulung tadi. Saat yang lain beristirahat tenang bersama keluarga, sang pemulung masih sibuk bekerja di tempat sampah, di depan rumah orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar